Wednesday, June 24, 2020

KISAH MIRIS DIBALIK PATUNG PANCORAN

TAK BANYAK YANG TAHU KISAH MIRIS DI BALIK PATUNG PANCORAN

Dhi, saya mau membuat Patung Dirgantara untuk memperingati dan menghormati para pahlawan penerbang Indonesia. Kau tahu kalau Bangsa Amerika, Bangsa Soviet, bisa bangga pada industri pesawatnya. Tetapi Indonesia, apa yang bisa kita banggakan? Keberaniannya!!!”
Demikian percakapan Bung Karno dengan Edhi Sunarso di teras belakang Istana Negara, Jakarta, 1964 yang menyiratkan betapa bangganya Presiden pertama Indonesia itu dengan heroisme para penerbang Indonesia. Ironisnya, tidak semua orang mengenal penggagas dan pembuatnya, apalagi memahami gagasan dan permasalahannya.
Suatu hari penulis memiliki kesempatan untuk melakukan wawancara langsung dengan Edhi Sunarso (82), pematung legendaris kepercayaan Presiden Sukarno di kediamannya di Jl. Kaliurang Km 5,5 No. 72 Yogyakarta.
Dalam kesempatan peresmian “Tugu Muda” Semarang tahun 1953 yang dikerjakan oleh Sanggar Pelukis Rakyat pimpinan Hendra Gunawan, Edhi Sunarso bertemu dengan Bung Karno.
Kala itu Bung Karno menghampiri Edhi dan berkata, “Selamat ya, sukses.” Edhi terdiam bingung mendapat ucapan tersebut. Beberapa hari kemudian ia baru tahu kalau dirinya menjadi juara kedua lomba seni patung internasional yang diselengarakan di London dengan judul “Unknown Political Prisoner”.
Usai menyelesaikan pembuatan relief Museum Perjuangan di daerah Bintaran Yogyakarta tahun 1959, Edhi dipanggil Bung Karno untuk menemuinya di Jakarta. Panggilan tersebut sempat membuatnya terkejut. Dalam hati, Edhi bertanya-tanya ada kepentingan apa Bung Karno memanggilnya ke Jakarta. Selain dia, dua seniman lainnya, yaitu Henk Ngatung dan Trubus juga mendapat panggilan serupa.
Ketiga pematung andalan Indonesia ini kemudian melahirkan patung Selamat Datang yang hingga kini bisa kita nikmati di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.
Dari sekian banyak proyek pembuatan monumen dari Bung Karno, Edhie mengakui kalau pembuatan Patung Dirgantara nyaris mandek. Patung Dirgantara dimaksudkan Bung Karno untuk menghormati jasa para pahlawan penerbang Indonesia yang berhasil melakukan pengeboman terhadap kedudukan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga menggunakan pesawat-pesawat bekas peninggalan Jepang.
“Kita memang belum bisa membuat pesawat terbang, tetapi kita punya pahlawan kedirgantaraan Indonesia yang gagah berani. Kalau Amerika dan Soviet bisa membanggakan dirinya karena punya industri pesawat, kita juga harus punya kebanggaan. Jiwa patriotisme itulah kebanggaan kita! Karena itu saya ingin membuat sebuah monumen manusia Indonesia yang tengah terbang dengan gagah berani, untuk menggambarkan keberanian bangsa Indonesia. Kalau dalam tokoh pewayangan seperti Gatotkaca yang tengah menjejakkan bumi,” ujar Edhie Sunarso mengenang perkataan Bung Karno panjang lebar.
Bung Karno meminta Edhie untuk memvisualisasikan sosok lelaki gagah perkasa yang siap terbang ke angkasa. Bahkan Bung Kano kemudian berpose sambil berkata, “Seperti ini lho, Dhi. Seperti Gatotkaca menjejak bentala.”
Setelah model Patung Dirgantara, atau patung Pancoran selesai, Edhie mengusulkan kepada Bung Karno agar patung yang rencananya berbentuk seorang manusia yang memegang pesawat di tangan kanannya diubah.
“Pak, dengan memegang pesawat di tangan kok terlihat seperti mainan,” ujar Edhie. “Bagaimana kalau di tangan kanannya tidak usah ada pesawat. Cukup dengan gerak tubuh manusia saja, didukung gerak selendang yang diterpa angin,” lanjut Edhie. “Yo wis Dhi, nek kowe anggep luwih apik yo ora usah dipasang. Ora usah digawe,” (Ya sudah Dhi, kalau kamu menganggap lebih baik ya tidak usah dipasang. Tidak usah dibuat) jawab Bung Karno.
Pembuatan monumen Patung Dirgantara sempat terhenti karena terjadi peristiwa G30S/PKI. Di sisi lain Edhie juga sudah tidak memunyai bahan-bahan, dan tidak memunyai uang lagi untuk melanjutkan pekerjaan. Ia bahkan menanggung utang kepada pemiliki bahan perunggu dan kepada bank.
Patung Digantara sempat beberapa tahun terbengkalai di Studio Arca Yogyakarta dalam bentuk potongan-potongan yang siap dirangkai. “Patung sudah selesai dicor perungu dan tinggal dibawa untuk dirangkai di Jakarta,” ujarnya.
Februari 1970, di sela-sela pengerjaan diorama untuk Museum ABRI Satria Mandala, Edhie mendapat panggilan panitia pembangunan Monas untuk menghadap Bung Karno di Istana Bogor. Dalam pertemuan tersebut Edhie melihat Suryadarma dan Leo Wattimena, serta pelukis Dullah dan beberapa teman dekatnya. “Saudara Edhie, piye kabare?” kata Bung Karno. “Patung Dirgantara nang endi?”
“Sampun rampung, Pak, (Sudah selesai, pak)” jawab Edhi.
“Kok durung dipasang? tanya Bung Karno.
Nyuwun pangapunten, Pak. Kulo sampun mboten gadah arto, kepeksa sedaya pekerjaan kulo kendelaken, (Mohon maaf pak. Saya sudah tidak memiliki uang. Terpaksa semua pekerjaan saya tangguhkan). Saya disegel, karena masih punya utang.”
Bung Karno terenyuh. Tidak berapa lama ia memanggil Gafur dan Dullah yang duduk di belakang Bung Karno.
“Fur, mobilku dolen, sing Buick. Nek wis payu duite serahno Edhi ben cepet (Fur, mobilku jual saja, yang Buick. Kalau sudah laku, uangnya serahkan Edhie supaya cepat) dipasang patungnya,” ujar bung Karno.
Setelah itu Edhie pamit pulang ke Yogyakarta untuk mempersiapkan pengangkutan patung ke Jakarta. Sebelum pulang, seorang staf Bung Karno menyerahkan uang sebesar Rp1.750.000 kepada Edhi untuk biaya transportasi pengangkutan patung ke Jakarta.
Tak sampai meresmikan
Satu minggu pekerjaan berjalan, Bung Karno melihat langsung pengerjaan merangkai patung. Setiap bagian yang diangkat rata-rata seberat 80-100 kg. Pemasangan dimulai dari bagian kaki sampai pinggang dan setiap sambungan dilas.
Ketika sampai pengelasan pada bagian pinggang, Edhie melihat ke bawah dan terlihat banyak orang berkerumun termasuk Bung Karno. Padahal, kondisi kesehatan Bung Karno saat itu sedang tidak baik dan ia sudah tinggal di Wisma Yaso. Edhie pun bergegas untuk turun, namun dilarang oleh Bung Karno.
Minggu pertama April 1970, pemasangan patung sudah sampai di bagian pundak dan tangan kanan sudah terpasang. Sedangkan tangan kiri dalam tahap penyambungan. Dalam kondisi yang kurang sehat, Bung Karno kembali meninjau proses pemasangan. Seperti yang pertama, Edhi segera bergegas untuk turun dari atas, tetapi lagi-lagi dilarang oleh Bung Karno. Bung Karno meminjam megaphone pasukan pengawal agar saya terus bekerja.
Mei 1970, Edhi mendengar kabar kalau Bung Karno akan melakukan inspeksi untuk ketiga kalinya. Akan tetapi hal itu ternyata tidak pernah terlaksana karena sakit Bung Karno semakin serius .
Pagi pukul 10.00 tanggal 21 Juni 1970, Edhi yang kala itu sedang berada di puncak Patung Dirgantara, melihat iring-iringan mobil jenazah melintas di bawah monumen. Ternyata itu adalah iring-iringan mobil jenazah Bung Karno dari Wisma Yaso menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Jenazah Bung Karno akan dibawa ke Blitar.
Badan Edhie lemas. Ia bergegas turun dan bersama rekannya Gardono, bergegas menuju Blitar untuk mengikuti upacara pemakaman Bung Karno.
Semingu setelah pemakaman Bung Karno, Edhie bersama tim pekerja monumen kembali ke Jakarta untuk melakukan pengerjaan akhir sekitar satu bulan. Edhie meninggalkan monumen dalam kondisi yang belum diberi nama, belum diresmikan, dan masih memiliki utang.
Namun ia merasa ikhlas dengan apa yang telah ia kerjakan untuk seorang tokoh sebesar Bung Karno yang sangat ia kagumi. Tokoh yang sangat dekat dengan seniman dan menghargai seni.
“Saya rela demi rasa cintaku kepada bangsa dan negara dan cintaku kepada Bung Karno yang selalu mendorong dan membangkitkan keberanian saya untuk mewujudkan ide-ide dan mengerjakan karaya-karya monumental Bung Karno,” kata Edhi.(Dikutip dari ANGKASA)














\







Wednesday, May 6, 2020

DIJUAL LUKISAN PECINAN PANGKAL PINANG BY DANIEL DE QUELYU

Dijual lukisan PECINAN PANGKAL PINANG
Oleh Daniel de Quelyu
HP / WA: 0818597166


PECINAN PANGKAL PINANG
Minyak di atas kanvas
115 x 160 cm

Awal tahun 70an masih belum banyak orang yang memiliki freezer dirumah, karena memang hanya digunakan untuk membekukan daging, ikan dan bahan makanan lainnya. Namun freezer dirumah kami hanya difungsikan untuk pembuatan es batu dan es mambo atau yang lebih populer dengan sebutan masa itu es GANEFO yang dikemas dalam kantong plastik kecil berwarna warni sesuai rasa dan aroma yang ditempatkan pada termos es untuk dititipkan ke warung- warung sekitaran kampung.

Pada waktu aku duduk dikelas empat esde aku dan seorang temanku mencoba berjualan es ganefo keliling untuk mengisi waktu liburan sekolah. Awalnya coba-coba malah jadi ketagihan dan menjadi kewajiban setiap pulang sekolah karena kami mendapat upah dari hasil penjualan.
Setiap rupiah yang didapat kami tabung dalam kaleng susu bekas dan uangnya kami pergunakan untuk kebutuhan sendiri. Baik untuk keperluan sekolah ataupun keperluan untuk membeli mainan.

Sasaran dan pasar penjualanpun tidak hanya seputaran sekolah atau pasar dikampung sebelah, namun lebih jauh bahkan dikota yang ramai, tak luput juga diterminal dan diberbagai keramaian yang ada. Namun yang menjadi favorit tempat nongkrong kami yaitu pedagang obat kaki lima yang ramai, yang berlokasi didepan bioskop Banteng yang ber-arsitektur Tiongkok dan yang sudah ditetapkan menjadi salah satu cagar budaya, namun tetap saja diruntuhkan untuk membangun mall.

Selain itu tempat nongkrong kami yang lain yaitu daerah pecinan kampung MELINTANG, disana diantara bangunan rumah penduduk dan pergudangan ada sebuah lapangan yang seukuran lapangan basket, kalau siang hari digunakan untuk parkir truk menurunkan dan memuat barang. Namun kalau sore hari dipergunakan anak-anak remaja dan pemuda untuk beraktifitas, bermain basket, sepak bola mini, sabung ayam bahkan kadang berubah menjadi arena latihan dan adu tinju yang tentunya sangat ramai karena diselingi dengan judi taruhan kecil- kecilan.

Aku dan temanku selalu duduk bersandar pada tembok bangunan bersama pedagang mian / mie, penjaja empek-empek dan banyak lagi, bahkan pedagang jeruk bali, atau rambutan kalau lagi musimnya.
Dagangan kamipun selalu habis diserbu penonton usai permainan, para pedagang dan penonton sama-sama senang. Dan seiring mentari yang mulai condong kebarat, aku dan temankupun beranjak pulang, kami berjalan sambil berbincang tentang permainan yang barusan kami tonton. Walau penat namun kami selalu gembira menanti hari pulang sekolah untuk berjualan es GANEFO kembali ....

Salam rindu buat sahabat masa kecilku,
AHAN di Pangkal Pinang.
BANGKA









Tuesday, March 31, 2020

Dijual lukisan BUNGA TERATAI by Daniel de Quelyu (HP/WA. 0818597166)

Dijual bunga teratai.

Judul         :  MEKAR SEMPURNA (2)
Ukuran      :  50 x 70 cm / Oil on canvas

Lukisan bunga teratai yang dilukis engan menggunakan teknik sablom dari kain berjaring yang baru pertama kali ditemukan oleh Daniel sang pelukis. Teknik ini memang agak rumit dan butuh waktu dalam pembuatannya. Untuk lukisan seperti ini memakan waktu satu bulan, memang begitulah waktu yg ibutuhkan.
Tapi hasil yang didapat memang seimbang, warna2 yang dihasilkan sangat kaya dan beragam serta mempesona.

Langsung saja kita perhatikan detail- detail dari lukisan teratai dibawah ini.












Wednesday, March 18, 2020

Tuesday, December 3, 2019

JUAL LUKISAN BUNGA SEPATU BY DANIEL DE QUELYU (HP/WA 0818597166)

LUKISAN BUNGA SEPATU.

Judul      : JUWITA MALAM,  OIL ON CANVAS
Ukuran   : 115 X 140 cm.
Pelukis   : DANIEL DE QUELYU

KETERANGAN :

Lukisan ini memakai teknik melukis dengan menggunakan jaring bermotif, yang disesuaikan dengan sketsa yang telah dibuat serta perpaduan warna cat yang dikehendaki dan kemampuan pelukisnya dalam mengolah warna hingga didapat hasil lukisan yang terlihat dibawah ini.

Adapun waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan lukisan ini yaitu 2 bulan, memang waktu yang agak lama dikarenakan proses pembuatannya memang sangat detail, yaitu potong per- potong sehingga membentuk dan menghasilkan lukisan yang sangat menakjubkan.








Wednesday, November 13, 2019

DIJUAL LUKISAN KOTA SURABAYA BY DANIEL DE QUELYU (WA/HP 0818597166)

PANDEGILING SURABAYA
Oil on canvas 95 x 145 cm

Saat pertama mulai bekerja disebuah perusahaan peleburan baja dikawasan Rungkut Industri sempat membuat aku syock. Kesibukan kerja yg sangat padat menyita hampir seluruh waktuku yang hanya tersisa diahir pekan, oleh sebab itu aku selalu punya agenda acara untuk menyenangkan diri.

Saptu sore seusai ngantor aku selalu menghabiskan waktu dengan jalan2 disepanjang jalan Tunjungan melihat- lihat pajangan dietalase sambil menikmati ice cream yg sebelumnya dibeli didepan toko Nam yang legendaris.
Oiya,...toko Nam yg termasuk bangunan cagar budaya itu sayangnya sudah dirobohkan pada tahun 1995 dan hanya menyisakan beberapa pilar dan tembok yang sekarang telah menjadi bagian dari mall yang sangat megah.

Kadang aku hanya menghabiskan ahir pekan dengan membaca buku berjam- jam diperpustakaan Toko buku Sarinah yg juga terletak dijalan Tunjungan lantai tiga yang berseberangan dengan gedung bioskop Aurora. Baru beranjak keluar kalau sudah diingatkan penjaga saat perpustakaan akan tutup.
Lain waktu ahir pekan aku bisa semalaman berada diToko Nam ataupun di Siola yg dulu masih berupa mall dan banyak barang serta pakaian yg dibandrol dengan harga discont hingga 50% yang membuat hati lemah ini selalu tergoda untuk membeli.

Namun dari semuanya itu daerah jalan pandegiling ini yang menjadi tempat favoritku, karena disana ada bioskop kelas pinggiran yang mengingatkan aku akan bioskop yang ada dikota asalku, murah meriah dan happy. Bioskop Dana yang berada tak seberapa jauh dari hotel Olympic yang terkenal dengan gaya arsitektur Streamline Moderne, senantiasa memanjakan para penonton dengan bebas merokok selama pemutaran film, sehingga gambar layar menjadi kabur karena gedung dipenuhi asap rokok. Film yang diputar biasanya film India, Mandarin, Indonesia dan kadang film laga Amerika. yang serunya lagi penontonnya super aktif kadang bersorak dan berteriak bahkan bertepuk tangan menyemangati sang bintang pujaan, persis nobar sepak bola. Alamaaak !

Bubaran bioskop biasanya aku langsung ngandok soto Lamongan yg berada ditrotoar dekat bioskop, dan juga tak lupa membeli majalah Intisari yang terbit sebulan sekali, juga koran merah yang kiaosnya berada persis disebelah warung soto.
Disebut koran merah, karena banyak judul tulisannya dicetak dengan tinta merah yang mengundang sensasi untuk membaca isinya.

Namun Sayang gedung bioskop Dana sudah lama tidak beroperasi lagi dan kini menjadi gedung tua yang kumuh dan rapuh serta terkesan horor, tak lagi layak untuk dilihat. Dibagian depannya telah ditutupi pagar seng yang tinggi sehingga tak tampak dari luar. Sang primadona Keputran tahun 50an itu kini seakan pasrah menunggu eksekusi modernisasi kota seperti yang dialami gedung2 tua seangkatannya.

Terinspirasi dari catatan harian
Surabaya, medio 1983



JUDUL           : PANDEGILING SURABAYA
UKURAN        : 95 X 145 CM
MEDIA            : OIL ON CANVAS





Friday, October 11, 2019

TERIMA PESANAN DAN JUAL LUKISAN BY DANIEL DE QUELYU ( WA/HP 0818597166)



TERIMA PESANAN DAN MENJUAL LUKISAN FOTO BY DANIEL DE QUELYU

Disini saya selain menjual lukisan juga menerima lukisan foto yang anda semua sukai dari foto kenangan atau foto keluarga anda, atau foto apa saja yang anda sukai, misalkan anda mempunyai sebuah foto keluarga, atau foto pemandangan yang indah atau foto orang tua yg anda cintai dan lain2, anda dapat memesannya serta menghubungi saya dialamat dibawah ini.

Ini salah satu contoh lukisan pesanan wajah yang saya lukis.